Berapa Jumlah Siswa Ideal dalam Satu Kelas Online? – Gentongpos

Coba ingat-ingat, dulu satu kelas lo isinya berapa orang? 30? 36? Kalau kelasnya agak rame, mungkin sampai harus duduk dempet-dempetan sama teman sebangku. Nah, sekarang bayangin satu kelas diisi 300 siswa. Banyak banget, kan?

Jumlahnya udah bukan sekadar satu kelas kecil lagi. Lebih mirip satu angkatan yang dikumpulin ya. Apa sekalian bikin konser aja nih?

ilustrasi guru saat mengajar di kelas online yang jumlahnya banyak

Eits, tapi percaya nggak 300 siswa dalam satu kelas online ternyata bisa banget lho dilakukan. Bahkan, emang ada alasan ilmiah kenapa Zenius sengaja ngebatesin Live Class tuh cuma boleh 300 siswa aja, maksimal banget banget.

Terus, muncul deh pertanyaan:

Emangnya, berapa sih jumlah siswa ideal dalam satu kelas online?

Hmm, apakah semakin sedikit siswa berarti semakin efektif? Atau kelas dengan ratusan siswa juga tetap bisa berjalan dengan baik? Atau bahkan ribuan pun juga oke? Nah, jawabannya ternyata nggak sesimpel “semakin sedikit, semakin bagus.”

Soalnya, kelas online punya kebutuhan yang berbeda-beda. Kelas yang fokus pada diskusi intensif pastinya punya kebutuhan berbeda dengan kelas live lecture yang dirancang untuk menjangkau lebih banyak siswa.

Yang lebih penting bukan cuma berapa banyak siswa yang ada di dalam kelas, tapi apakah siswa yang ada di dalamnya masih punya kesempatan untuk benar-benar terlibat dalam proses belajar.

Yuk, kita bahas bareng!

Penjelasan Jumlah Siswa Ideal dalam Satu Kelas Online

Kalau lo mencari satu angka sempurna, sebenarnya nggak ada angka sakti yang berlaku untuk aturan jumlah siswa kelas online. Jumlah siswa yang ideal bergantung pada tujuan, format, dan desain pembelajaran.

Coba bayangin deh, ada kelas kecil yang berisi 10 siswa. Guru bisa lebih leluasa mengajak siswa berdiskusi. Kalau ada yang bingung, pertanyaannya lebih mudah diperhatikan. Satu per satu siswa juga punya kesempatan lebih besar untuk menyampaikan pendapat.

Sekarang bandingkan dengan kelas yang berisi 300 siswa. Guru tetap bisa ngajar, siswa tetap bisa bertanya, dan diskusi tetap mungkin dilakukan. Tapi tentu aja, cara interaksinya nggak bisa disamakan dengan kelas berisi 10 orang. Masalah bisa muncul jika jumlah siswa semakin besar, tetapi sistem pembelajarannya tetap diperlakukan seperti kelas kecil.

Jadi, kelas besar bukan berarti otomatis buruk. Namun, harus benar-benar diperhatikan bagaimana membangun strategi dan sistem yang efektif untuk digunakan dalam kelas dengan jumlah murid yang lebih banyak.

Kenapa Jumlah Siswa dalam Kelas Online Perlu Diperhatikan?

Misalnya, ada kelas online yang berlangsung selama 60 menit. Kalau pesertanya 10 orang, secara sederhana setiap siswa punya ruang interaksi yang jauh lebih besar.

Sekarang, coba masukkan 1.000 siswa ke kelas yang sama dengan waktu yang sama. Gurunya juga masih satu orang. Kalau semua siswa ingin bertanya, ya… selamat datang di kolom chat yang bergerak secepat kereta Whoosh. Satu pertanyaan belum selesai dibaca, udah muncul beberapa pertanyaan baru.

Di sinilah jumlah siswa mulai memengaruhi pengalaman belajar. Penelitian mengenai kelas online synchronous menunjukkan adanya hubungan non-linear antara ukuran kelas dengan pengalaman belajar. Ketika jumlah siswa meledak tanpa batas, performa akademik dan kepuasan siswa dapat ikut menurun tajam lho. Salah satu mekanismenya adalah hilangnya ruang bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan pengajar. Jadi, masalahnya bukan sekadar kelasnya “rame”, tapi apakah setiap siswa masih punya kesempatan untuk bertanya, mendapatkan feedback, dan ikut terlibat?

Kelas Online yang Besar Bisa Jadi Masalah Kalau Siswa Cuma Jadi Penonton

Salah satu hal yang membedakan live class dengan video rekaman adalah… interaksi.

ilustrasi interaksi siswa dan tutor di Live Class Zenius

Saat menonton video rekaman, lo bisa pause, rewind, atau lanjut lagi kapan pun. Tapi lo nggak bisa langsung angkat tangan dan bertanya kepada tutor. Di kelas live inilah yang bisa nyelamatin lho dari rasa bosan. Lo bisa tanya ketika bingung, melihat tutor ngebahas masalah umum dan pertanyaan, serta merespon kuis interaktif.

Jadi, berapa dong jumlah siswa per rombel yang ideal? Kenapa Zenius memutuskan hanya 300 siswa saja yang bisa ikut Live Class Zenius?

Baca juga: 🔗 Zenius Live Class Is Back! Program Persiapan UTBK yang Bikin Lo Beneran Paham

Alasan Ilmiah di Balik 300 siswa Live Class

FYI, sebelum kita bahas lebih jauh, kalau lo pernah mencari informasi tentang jumlah siswa dalam satu kelas sekolah, lo mungkin pernah menemukan istilah rombel, alias rombongan belajar.

aturan jumlah siswa dalam satu rombel berdasarkan kepmendikdasmen nomor 14 tahun 2026
Peraturan jumlah siswa dalam satu rombel menurut pemerintah

Dalam konteks sekolah, jumlah siswa dalam satu rombel memang punya ketentuan tersendiri, ya, berdasarkan ketentuan pemerintah.

Tapi, angka tersebut nggak bisa langsung digunakan sebagai patokan untuk semua kelas online.

Kenapa? Karena kelas sekolah dan kelas online punya desain yang berbeda. Kelas sekolah biasanya merupakan bagian dari sistem satuan pendidikan dengan struktur kelas, jadwal, dan lingkungan fisik tertentu. Sementara itu, kelas online bisa punya banyak bentuk seperti kelas privat, small group discussion, webinar, workshop, serta live lecture dengan peserta dalam jumlah besar.

Nah, terus kenapa Live Class Zenius ada angka maksimal di 300 siswa? Apakah angka 300 ini cuma tebakan asal? Atau, jangan-jangan kelas Zenius emang cuma muat 300 peserta online aja? Hahaha …tentu nggak ya. Sebenarnya, bisa banget lho kalau Zenius mau bikin Live Class 5000 orang.

Namun, tim Zenius tuh nentuin angka 300 yang memang diambil berdasarkan landasan riset antropologi dan psikologi sosial yang matang. Yuk, kita bahas bareng!

1. Menjaga Keutuhan Komunitas Lewat Dunbar’s Number

Jadi gini, zaman sekarang, orang tuh bisa banget punya kenalan atau follower sampai 1000, 10000, bahkan 100.000 gitu ya. Tapi dari angka itu, sebenarnya jumlah teman yang benar-benar dia kenal dekat itu terbatas banget, lho.

Nah, fenomena ini diteliti oleh seorang antropolog bernama Robin Dunbar.

Lewat risetnya terhadap perkembangan otak manusia, Dunbar menemukan bahwa kapasitas otak kita, khususnya bagian neokorteks, punya batas maksimal dalam mengelola hubungan sosial yang stabil dan bermakna. Angka keramat itu adalah 150 orang, yang akhirnya terkenal dengan sebutan Dunbar’s Number. Jika sebuah kelompok melebihi angka ini, anggota di dalamnya akan mulai merasa asing satu sama lain dan ikatan sosialnya runtuh.

Gampangnya gini, 150 orang itu jumlah maksimal orang yang kalau lo ketemu mereka di jalan, lo bakal langsung tahu siapa namanya, apa hubungannya sama lo, dan lo nggak canggung buat nyapa. Di atas 150 orang, otak kita bakal kewalahan. Kelompok tersebut bakal kehilangan rasa kebersamaan dan berubah menjadi kumpulan orang asing yang cuek satu sama lain.

Maksudnya, kalau sekedar wajah sih, mungkin bisa ya inget, bahkan biasanya sampai 5000 wajah sekalipun (VOA, 2018), tapi cuma sekedar mengenali bukan kenal dan berinteraksi banget gitu. Coba liat deh ilustrasi di bawah ini.

ilustrasi teori Robin Dunbar yang bernama Dunbar's Number
Lingkaran Hubungan Manusia berdasarkan Dunbar’s Number (Referensi image by Christopher Roosen dan Wikipedia)

Kalau dalam dunia pendidikan digital, angka 300 dihitung sebagai arsitektur “Dual-Dunbar” (2 x 150 orang). Angka ini adalah batas psikologis paling maksimal agar sebuah ruang kelas virtual tidak berubah menjadi “kerumunan asing”. Dengan mengunci kuota di angka 300, Zenius memastikan kelas tetap terasa seperti satu angkatan yang utuh, sehingga kenyamanan psikologis (psychological safety) siswa saat belajar tetap terjaga.

2. Melawan Efek Mager Massal (Social Loafing)

Pernah nggak lo kerja kelompok yang anggotanya terlalu banyak, lalu lo memilih diam karena ngerasa tugasnya udah dikerjain temen yang lain? Dalam psikologi sosial, fenomena ini disebut Social Loafing atau Efek Ringelmann.

ilustrasi social loafing dalam sebuah kelas

Semakin besar sebuah kelompok, kontribusi individu di dalamnya akan menurun secara proporsional karena merasa “bisa bersembunyi di balik keramaian”.Riset membuktikan bahwa pada kelas online berukuran raksasa yang tidak dikelola, 80% siswa akan mundur menjadi konsumen pasif dan hanya 20% orang saja yang mendominasi kelas.

Kebayang sih, kalau kita lagi di kelas yang isinya 6 orang dibanding dengan yang berisi 600 orang, pasti beda banget kontribusi kita. Kalau cuma berenam aja rasanya tuh jadi.. waduh gue harus ikut ngomong ya, yang lain udah pada ngasih pendapat. Sedangkan, kalau ada 600 orang di satu kelas itu rasanya jadi, kalo bisa orang lain yang ngomong, kenapa harus gue? Ratusan lainnya juga diem kok, nggak akan ada yang sadar keberadaan gue.

Batas 300 siswa di Zenius dipasang untuk memotong jalur malas ini. Dikombinasikan dengan sistem interaksi berkala seperti kuis instan dan fitur polling, lo dipaksa untuk tetap aktif berpikir dan tidak sekadar menjadi penonton bioskop.

Ikut Belajar di Live Class Zenius

Jadi, pilihannya bukan cuma kelas kecil yang privat dan mahal banget, atau kelas raksasa yang ngebiarin lo dicuekin.

Bisa kok, kita cari titik keseimbangan yang bikin lo nyaman. Iya, batas maksimal 300 siswa di Live Class Zenius ini bisa jadi win-win solution. Baik dari sisi teknologi dan biaya, serta operasional yang tetap efisien sehingga harga paket belajarnya ramah kantong. Dari sisi ilmu pembelajaran (pedagogi), kualitas belajar lo nggak dikorbankan karena interaksinya dirancang secara ilmiah agar lo tetap didengar dan bisa berinteraksi.

Gimana menurut lo, udah siap belum ngerasain serunya belajar di kelas yang bikin lo semangat belajar? Yuk, cobain Live Class Zenius!


Referensi:

Dunbar, R. (1992). Neocortex size as a constraint on group size in primates. Journal of Human Evolution, 22(6), 469–493

Ebony. (2012, February 13). A deficit of motivation: social loafing in online learning communities. Probloggersdotorg. https://probloggersdotorg.wordpress.com/2012/02/12/a-deficit-of-motivation-social-loafing-in-online-learning-communities/

Ha, X. Z. &. L. M. &. S. B. &. W. (2025). Class size and student academic and behavioral performance in college synchronous online courses. ideas.repec.org. 5.html

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2026). Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 14 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis Mekanisme Verifikasi dan Validasi Penetapan Jumlah Murid Perrombongan Belajar dan Jumlah Rombongan Belajar Setiap Satuan Pendidikan. Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Devlin, H. (2018, October 10). The average person can recognize 5000 faces. Science.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *