Niat Beli Satu, Jadi Ingin Beli Semuanya? – Gentongpos
Hai Sobat Zenius. Ini true story, yang mungkin lo juga pernah alami. Waktu gue masih SMA, which is udah lebih dari satu dekade yang lalu (duh, keliatan ya umurnya😏) gue bilang ke diri gue:
“Gue happy dengan kehidupan yang minimalis, yang simpel dan berkecukupan, nggak perlu lebay dan mewah. Kalau udah kerja nanti, gue bakal nabung dan hidup secukupnya.”
Intinya, gue berharap hidup nyaman, bisa bebas makan enak, tinggal di tempat yang aman, dan nggak ngutang sana-sini gitu lho. Jadi, dari dulu gue cukup hemat. Bahkan, sejak zaman sekolah, walau doyan makan, gue nahan jajan dengan berusaha jadi anak bekal dan cuma jajan kalau benar-benar mau self reward aja. Percaya nggak, jumlah minuman semacam boba, jus, latte, matcha, dan lainnya yang gue beli dalam setahun tuh bisa dihitung dengan jari. Belanja online pun relatif jarang, belum tentu dalam sebulan gue beli sesuatu. Gue serius berpikir banget kalau mau beli sesuatu, lebih mementingkan fungsi dan efisiensi daripada sekedar gaya atau suka aja.
Tapi… beberapa tahun yang lalu, mulai ada gejolak yang nggak disangka rada bikin kebiasaan gue itu buyar sedikit, karena sesuatu yang sebenarnya adalah bentuk dari ketulusan teman gue.
Waktu itu, ada teman gue yang berbaik hati ngasih gue kado tas kulit yang harganya jutaan. Cantik banget, tasnya nggak besar, tapi muat semua barang esensial seperti ponsel, dompet, tisu, dan perona bibir. Warnanya hitam dengan sedikit detail emas, jadi gampang mix and match. Dan… itu jadi tas termahal yang pernah gue punya saat itu.
Sebelumnya gue tuh jarang banget beli tas, paling beli di pasar atau di mall, sama beli online, kebanyakan harganya puluhan ribu sampai paling mentok ratusan ribu. Malah, lebih banyak tas gue yang merupakan hadiah dari orang lain. Walau begitu, gue suka dengan tas-tas lama gue karena ya sesuai dengan fungsinya, untuk bawa barang dan cukup kuat, nggak mudah rusak.
Lo bisa bayangin nggak gimana perasaan gue saat itu pas dikasih hadiah tas itu? Ya tentunya, gue sangat bersyukur dan senang. Excited banget guys, dan modelnya tuh gampang dipakai ke mana-mana, cukup smart casual gitu lho. Tapi … tiba-tiba gue merasa ada yang janggal… kok pas ngeliat tas, baju, dan sepatu gue yang lain di rumah, gue jadi berasa kureng ya? Zuzur janggal … Serius, gue jadi ngerasa, ini tas bagus gue kesepian banget, nggak cocok deh dipasangin sama fashion item lain yang biasa banget. Barang-barang gue yang lain udah rada lusuh ya, nggak keliatan elegan, beda vibes-nya sama tas baru gue ini. Lo bisa nebak ngga apa yang terjadi selanjutnya?
Tiba-tiba, gue udah sibuk mantengin salah satu situs populer di Indonesia yang memudahkan konsumen untuk beli barang-barang accessible luxury. Padahal, gue sebelumnya nggak pernah lho tertarik sama hal seperti itu. Atau lebih tepatnya, nggak tahu sih, belum terekspos. Semakin gue scroll barang-barang di sana, semakin gue ngerasa barang-barang di kamar gue ini kayaknya udah waktunya diganti, nggak selaras sama barang baru gue yang high ini. Mendadak, standar gue tiba-tiba berubah. Gue bingung sama diri gue sendiri.
Yang bikin dar der dor, beberapa bulan yang lalu, gue nggak sengaja lagi scroll sosmed, dan di situ ada konten yang kira-kira bertanya pernahkan gue ngerasa nggak hepi atau jadi nggak puas setelah punya suatu barang yang bagus. Di situ gue langsung, lah iya, ini nih penjelasan perasaan gue: Diderot Effect.
Tabel Konten
Apa itu Diderot Effect?
Memangnya, apa itu Diderot Effect? Sebenarnya, Diderot itu nama orang, seorang filsuf Prancis yang menulis esai berjudul “Regrets for Leaving My Old Robe” (Cakir & Eser, 2023).
Nah, kisah dia yang menjadi asal-usul Diderot Effect menarik nih. Kalau lo mau baca lengkapnya bisa baca “DIDEROT AND THE ENCYCLOPÆDISTS” oleh John Morley (1905).
Singkatnya, kalau tadi gue dikasih tas sama teman gue, si Diderot ini dihadiahi jubah rumah (dressing gown) berwarna merah yang cantik dan mewah. Suatu saat, dia kenakan jubah itu di ruang kerjanya yang memang sederhana dan agak lusuh. Ada kursi beralas jerami, meja kayu, rak buku sederhana, karpet tua, serta beberapa karya seni simpel. Dulu, semua itu bagus-bagus aja, terasa harmonis dengan jubah dia yang lama. Tapi, setelah pakai jubah scarlet yang bikin dia berasa kayak orang have, dia jadi ngeliat sekelilingnya dengan persepsi yang berbeda. Mungkin, dia berasa, kok jubah gue secakep ini, sedangkan ruang kerja gue jelek ya?
Mulai deh, dia rombak tempat kerja dia. Berdasarkan keterangan Rocha et al. (2025), Diderot mengganti permadani atau tapestry lama dia dengan damask (sejenis kain tenun), kursi jerami dengan kursi berlengan berlapis kulit, meja kerja lamanya dengan meja tulis yang lebih mewah, karya seni simpel tadi dengan karya yang lebih baru dan wah, dan masih banyak detail lain. Banyak juga ya upgrade-nya. Menurut lo, dia happy nggak dengan perubahan itu?
Ternyata, berakhir ironis guys. Bukannya bahagia naik level, Diderot malah merasa sedih, kehilangan keharominsan yang dulu dia miliki dengan barang-barang sederhananya. Dia jadi merasa ada beban untuk menyesuaikan barang-barang di sekitarnya. Kisah inilah yang kemudian berkembang jadi konsep Diderot Effect.
Lebih jelasnya, kalau berdasarkan konsep yang dikemukakan McCracken dalam review Santos et al (2026), efek Diderot ini merupakan sebuah fenomena kultural dan psikologis, dimana satu produk dapat mengganggu kebiasaan pembelian seorang individu, memulai rangkaian pembelian komplementer untuk melengkapi pembeliannya. Jadi, ini bisa karena awalnya dapat barang baru berupa hadiah mahal atau produk luxury, mengenalkan level kualitas, estetika, atau simbol status yang melebihi sebelumnya gitu.
Contoh Diderot Effect
Selain kisah gue dan kisah asli Diderot, masih ada contoh Diderot Effect lain yang dibahas penelitian lho.
Misalnya, penelitian oleh Terzioğlu (2023) mencoba melihat apakah pola Diderot Effect juga muncul dalam belanja pakaian bekas. Ia meneliti 20 pengguna dari dua aplikasi second-hand clothing, yaitu Dolap dan Depop (masing-masing 10 pengguna). Tujuannya, untuk melihat pola konsumsi pengguna dalam konteks Diderot Effect, khususnya melalui barang yang mereka jual dan produk serupa yang mereka tambahkan ke daftar favorit untuk dibeli. Jadi, peniliti ingin melihat apakah para konsumen tuh juga cenderung beli nggak cuma satu barang biar selaras. Hasilnya, pengguna nggak selalu berhenti pada satu produk. Mereka cenderung cari beberapa barang yang dianggap bisa saling melengkapi agar terlihat lebih selaras dan utuh, bahkan walau barang tersebut nggak mereka butuhkan.
Selain itu, ada juga contoh lain nih dari situs ING THINK Economic and Financial Analysis. ING meminta para pembacanya membayangkan display room di IKEA. Kalau lo belum pernah ke IKEA, gue cerita sedikit ya. Jadi, IKEA itu toko furniture dan barang-barang rumah tangga yang di showroom-nya itu ada banyak ruangan-ruangan display yang lengkap sesuai dengan konteks ruangannya, entah itu kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang tamu, dan sebagainya. Nah, menurut ING, display di IKEA itu kan lengkap banget ya (misal ada sofa, meja kopi, TV, dan berbagai dekorasi), itu bukan sekadar untuk menunjukkan produknya bagus, tapi juga memberikan gambaran “orang seperti apa” yang tinggal di ruangan tersebut.
Jadi, seseorang bisa sampai berpikir, “Wah, ini tuh gaya gue banget”. Jadi, ketika seseorang beli sofa dari ruangan tersebut dan meletakkannya di ruang tamu di rumah, tiba-tiba dia bisa jadi ngerasa, hmmm, kok TV gue ga cocok ya, nggak kayak yang di IKEA tuh selaras banget. Eh, meja gue juga kurang masuk deh, waduh, ini tanggung dekorasinya juga ga cocok, dll.
Fenomena ini juga diteliti lho untuk divalidasi kebenarannya oleh Santos et al (2026). Jadi, Santos, António, dan Rita (2026) itu mencoba cari tahu apakah Diderot Effect itu benar-benar terlihat dalam perilaku belanja konsumen. Mereka pakai data riwayat transaksi dari pengguna Amazon dan menganalisisnya dengan machine learning serta Generalized Sequential Pattern (GSP) Algorithm untuk mencari pola pembelian yang terjadi secara berurutan.
Mereka menggunakan data pembelian laptop untuk salah satu contoh “pemicu” yang dilihat apakah diikuti pembelian produk lain. Dari dataset akhir yang berisi 118.582 data transaksi, mereka menemukan pola pembelian lanjutan setelah laptop yang mendukung adanya Diderot Effect. Tapi iya lagi, dulu pas gue dapet laptop “baru” turunan dari kakak gue, gue cukup excited dan gue beli mouse baru. Soalnya waktu itu gue dikasih laptop gaming dan mouse lama gue berasa ‘kurang sangar’ buat nemenin laptop itu. Terus nggak lama, gue beli mousepad baru juga, yang lebih lembut dan keren. Gimana, menurut lo apakah Diderot Effect benar-benar terjadi? Ada nggak contoh pengalaman lo yang sesuai dengan konsep Diderot Effect ini? Cerita dong di kolom komentar!
Kupas Tuntas Dunia Investasi Bagi Pemula
Artikel ini mengupas dunia investasi secara komprehensif bagi para pemula. Dari mulai jenis-jenis investasi, hingga kelebihan & kekurangannya masing-masing. Halo para pembaca setiap Zenius Blog, ketemu lagi dengan gue Meby. Pada artikel kali ini gua mau lagi-lagi mau cerita tentang topik ekonomi, khususnya tentang dunia investasi. Artikel ini sekaligus menyambut beberapa

Kaitan Diderot Effect dengan Psikologi Manusia
Dari contoh-contoh tadi, jadi penasaran deh, kenapa otak kita bisa sampai merasa satu barang baru bikin barang-barang lama kita terasa kurang harmonis (kurang cocok)? Rasanya tuh, kalau udah ada satu barang cakep, disatukan bersama barang ‘biasa’ lainnya, jadi nggak selaras gitu.
Salah satu penjelasannya bisa jadi berkaitan dengan disonansi kognitif (cognitive dissonance). Simpelnya, menurut konsep ini, manusia dapat merasa nggak nyaman ketika menemukan sesuatu nggak sesuai atau ada pertentangan dalam pikirannya gitu.
Nah, di pembahasan Cakir & Eser (2023), dalam Diderot effect itu barang baru yang kita dapatkan bisa menciptakan rasa nggak sesuai atau harmonis dengan barang-barang yang sebelumnya kita miliki. sehingga, muncul deh dorongan untuk mengurangi rasa nggak nyaman itu dengan mengganti barang-barang lain agar lebih sesuai dengan barang baru. Jadilah, proses ini dapat memicu efek domino dalam pembelian.

Kalau kita balik ke cerita tas gue tadi, sebelumnya gue tuh sebenarnya nggak punya masalah lho sama pakaian dan sepatu lama gue. Semuanya oke kok, masih berfungsi, bahkan gue suka-suka aja modelnya. Namun, setelah punya tas yang jauh lebih elegan, baru deh muncul pikiran, ” Kok baju sama sepatu gue nggak cocok sama tas ini ya?”
Sebenarnya, masalahnya bukan mendadak baju-baju gue jadi buruk rupa ya. Lebih tepatnya, tas barunya yang bikin gue ngeliat keseluruhan penampilan gue dengan standar yang berbeda.
Nah, teori Gestalt bisa membantu menjelaskan fenomena ini, Sobat Zenius.
Berdasarkan penjelasan yang bisa kita lihat dari teori Gestalt dalam review Çakaröz et al (2022), pada dasarnya menjelaskan bahwa manusia cenderung ngeliat sesuatu sebagai kesatuan (the whole), bukan sekedar kumpulan bagian yang berdiri sendiri aja. Jadi ya kalau kita punya barang baru, kayak memakai tas baru itu, kita juga ngeliat gimana barang-barang lain terlihat ketika jadi satu kesatuan. Sehingga, ketika barang barunya nggak selaras dengan barang-barang yang sudah ada, dapat muncul dorongan untuk membeli atau memperbarui barang lain sampai tercipta tampilan yang bisa dianggap lebih harmonis atau selaras.
“Diderot Effect itu nggak sama dengan belanja impulsif”
Wah, kalau ngelihat contoh dan berbagai psikologi manusia tadi, kesannya Diderot Effect ini bikin kita kalap belanja ya. Namun, sebenarnya Diderot Effect itu nggak sama dengan belanja impulsif. Walau, keduanya memang punya hubungan nih, Sobat Zenius.
Ada penelitian Şen Doğan (2025) terhadap 416 konsumen dewasa di Turki yang menemukan bahwa Diderot Effect berhubungan positif dengan impulsive buying, dengan menjadi semacam ‘jembatan’. Misal, ada seseorang yang memang memiliki kecenderungan materialistis gitu, Diderot Effect ini dapat jadi dorongan tambahan yang membuat seseorang melakukan pembelian impulsif. Jadi, Diderot Effect itu bukan berarti gara-gara kita ada barang baru bagus langsung jadi belanja-belanja ya, namun bisa menjadi jalan bagi pembelian pertama yang kemudian “beranak pinak” menjadi pembelian-pembelian berikutnya.
Padahal, in this economy, kita harus makin hati-hati nggak sih belanja yang nggak perlu karena sekedar ngerasa barang-barang kita kurang sesuai satu dengan yang lain? Terus, kalau udah mulai sadar masuk ke pola ini, gimana cara menghentikannya?
Cara Mengatur Uang untuk Anak Sekolah
Artikel ini diperuntukkan kepada anak sekolah yang sedang mencari cara mengatur uang sesuai dengan kebutuhannya. Apa aja sih caranya? Pernah nggak sih orang tua kamu ragu untuk memberikan kamu uang? Atau mungkin tidak percaya pada kemampuan kamu untuk menabung? Zen punya tips untuk mengatur keuangan kamu agar kamu bisa hidup

Cara Menghindari Diderot Effect
Supaya kita nggak jatuh ke lingkaran setan Diderot effect, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan atau pegang sebagai pedoman dalam hidup. Gue sudah rangkum nih dari Becker (2021), Pattison Professional Counseling and Mediation Center (n.d.), dan Priyanka (2026).
Pertama, tanya ke diri lo “Gue benar-benar butuh ini?”
Sebelum membeli sesuatu, coba berhenti dulu deh, dan tanya ke diri sendiri apakah lo benar-benar butuh barang itu atau sebenarnya barang lama gue itu udah oke kok walau nggak secakep barang baru gue. Misalnya, lo beli sepatu baru, dan tiba-tiba celana lama terasa nggak cocok, coba tanya dulu, “Celana gue benar-benar jelek dan nggak bisa dipakai, atau sekarang gue cuma merasa penampilannya kurang matching aja?”
Becker dan Pattison menekankan, penting lho menyadari motivasi di balik pembelian dan mengenali kapan kita mulai masuk ke pola spiralling atau reactive consumption itu.
Kedua, hitung harga plus “ekornya”
Intinya, jangan cuma lihat harga barang pertama, lihat juga kemungkinan pembelian berikutnya. Misal, kalau lo beli HP keren ini, apakah perlu casing, earbuds, charger, dan layanan tambahan lainnya yang sebenarnya bahkan ngga lo perluin banget? Bahkan, mungkin sebenarnya HP lama lo tuh masih bagus lho. Jangan sampai pembelian seharga Rp5 juta kemudian membuat lo mengeluarkan Rp3 juta lagi untuk barang-barang pelengkap. Malah jadi chain atau reactive purchashing (Pattison Professional Counseling and Mediation Center, n.d.).
Ketiga, Jangan kasih algoritma banyak kesempatan menggoda lo
Kita berada di era belanja online dimana rantai pembelian semakin mudah terjadi. Gampang banget, tinggal klik sana, klik sini. Setelah mencari suatu produk, algoritma dapat menyodorkan iklan atau rekomendasi yang dianggap sesuai minat kita. Makanya, ManageEngine (Priyanka, 2026) menyarankan kita mengurangi interaksi dengan rekomendasi yang nggak penting, berhenti berlangganan email promosi, dan matikan saja notifikasi promo yang bisa jadi pemicu.
Ingat, setelah membeli satu produk, kita bisa saja dengan mudah terdorong melengkapi produk itu dengan barang lain yang belum tentu kita butuhkan. Nanti kita menyesal seperti Denis Diderot, yang malah jadi beli ini itu dan nggak ada habisnya.
Sampai di sini dulu pembahasan kita kali ini, Sobat Zenius. Semangat ya melawan godaan belanja barang nggak penting hanya untuk melengkapi barang-barang cakep kita, ciao!
Kenapa Emas dan Perak Dihargai Lebih Mahal Daripada Logam Lain?
Emas dan perak dianggap sangat berharga. Apakah penyebabnya? Pertanyaan ini dijawab lengkap dengan penjelasan dari segi Sejarah, Ekonomi, dan Kimia. Hey, Guys.. Ketemu lagi nih sama gue, si ganteng Ivan! 😛 Kalo sebelumnya, kita udah pernah cerita tentang Matematika yang dikawinin sama Biologi, sekarang gue akan ceritain satu hal yang umum

Referensi:
Becker, J. (2021, October 27). Understanding the Diderot Effect to overcome overspending. Forbes.
Cakir, B. C., & Eser, Z. (2023). Beyond material possessions: The interplay among holistic thinking, the Diderot effect, prestige sensitivity, and self-actualization on purchase intention. Journal of Marketing and Consumer Research, 90, 14–30. https://doi.org/10.7176/JMCR/90-02
ING. (2020, June 10). What is the Diderot effect? ING THINK Economic and Financial Analysis.
Morley, J. (1905). Diderot and the Encyclopædists (Vol. 1). Macmillan and Co. Project Gutenberg. https://www.gutenberg.org/ebooks/15098
Pattison Professional Counseling and Mediation Center. (n.d.). Understanding the Diderot Effect: How to avoid reactive purchasing.
Priyanka, G. S. (2026, June 4). Escaping the Diderot effect: How to avoid tech-driven spending. ManageEngine Blog[cite: 65, 70, 71].
Rocha, E., Corbo, W., Aucar, B., & Frid, M. (2025). Denis Diderot and the world of cultural goods: an interpretation of the Encyclopédie in modern consumption. Consumption Markets & Culture, 28(1), 58–70. https://doi.org/10.1080/10253866.2025.2494583
Santos, A., António, N. & Rita, P. The Diderot effect: a data-driven validation. J Market Anal 14, 535–551 (2026). https://doi.org/10.1057/s41270-024-00371-6
Şen Doğan, R. (2025). The effect of materialism on impulsive buying: The mediating role of the Diderot effect. Behavioral Sciences, 15(10), Article 1403.
Sukmana, I., Karana, I. A., Agusman, W., Wahyuningtias, I., & Wati, L. N. (2026). The role of social-commerce, influencers, and Diderot Effect on consumers’ impulsive buying: A systematic review. International Journal of Entrepreneurship, Business, and Creative Economy, 6(2), 1–24.
Terzioğlu, E. (2023). An Investigation on ’Second-Hand Clothing Applications’ in the Context of the Diderot Effect. Erciyes İletişim Dergisi, 10(2), 593-608.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
