Perbedaan Generasi Boomer, X, Milenial, Z, dan Alpha – Gentongpos

Selama 30 tahun gue hidup dan 7 tahun gue bekerja, gue udah merasakan asam-garam kehidupan bekerja di 4 tempat yang berbeda. Ada yang di perusahaan swasta, startup, maupun instansi non pemerintah.

Gue senang, sih, bisa merasakan budaya kerja di berbagai jenis tempat kerja. Meskipun kayak roller coaster dan nggak selalu happy ending, tapi gue bangga bisa jadi bagian dari mantan maupun tempat kerja gue sekarang, di mana gue bisa mencurahkan passion gue sepenuhnya.

Saat gue kena layoff di sebuah startup era Pandemi Covid-19 dulu, gue selalu mendapatkan pertanyaan template dari ibu, bude, pakde, dan sepupu gue yang lebih tua, tepatnya generasi baby boomer:

“Kamu nggak mau nyoba daftar PNS aja? Kerja yang pasti-pasti aja lah sekarang.”

Apalagi, setelah gue menikah, akan selalu ada pertanyaan template saat Idulfitri, at least keluar dari 1 orang:

“Gimana, kapan ngisi (punya anak)?”

(Dok. tenor.com)

Ya…sebenarnya nggak ada yang salah, sih, sama pertanyaan mereka. Justru gue mikir, kenapa orang-orang tua pertanyaannya kalau nggak seputar nyuruh jadi PNS, ya nanyain kapan gue punya anak? Apakah mereka emang basa-basi aja, atau pola pikir generasi mereka yang cenderung berkutat di situ?

Sementara itu, gue justru lebih fokus buat budgeting liburan dan mikirin gunung mana lagi yang mau gue daki buat melepas stres karena kerjaan.

Gue nggak reaktif setiap ditanyain seputar dua hal itu. Justru gue penasaran untuk mempelajari karakteristik perbedaan antar generasi, buat belajar menempatkan diri sesuai POV mereka dan berempati. Ternyata, ada bermacam generasi di dunia ini berdasarkan rentang tahun kelahirannya, dan itu turut memengaruhi bagaimana mereka berpikir dan mengambil keputusan dalam hidup.

Dan gue bakal share ke lo semua…

Teori Perbedaan Generasi

Di suatu hari pada tahun 1830-an, Bapak Sosiologi Dunia, Auguste Comte, menulis dalam bukunya yang berjudul Cours de philosophie positive. Comte bilang, dunia yang bergerak lebih maju merupakan hasil dari perubahan generasi dalam masyarakat. Pergantian generasi membawa ide-ide dan praktik baru yang lebih inovatif buat menggantikan ide atau praktik dari generasi sebelumnya.

Sohib sosiolog lainnya, Karl Mannheim, juga jelasin tentang “generasi” dalam esainya yang berjudul The Problem of Generations (1952). Mannheim bilang, sesuatu bisa dikatakan sebagai “generasi” apabila dibentuk melalui dua hal:

1) berada dalam lokasi yang sama dalam waktu sejarah, sehingga mengalami peristiwa dan pengalaman yang sama, dan

2) kesadaran akan kesamaan lokasi sejarah tersebut.

Karl Mannheim. (Dok. Wikimedia Commons)

P

P

Maksud?

Jadi, misalnya, kakek A jadi veteran yang ikut berperang melawan penjajah tahun 1940-an. Sementara itu, kakek B pada periode tahun yang sama, lagi fokus berkelana di Arab buat menyambung hidup. Akhirnya, pada tahun 1945, kakek A menyaksikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan resmi menjadi “generasi pejuang Kemerdekaan”. Tapi, kakek B udah jadi juragan parfum di Arab Saudi.

Meskipun kedua kakek itu punya usia yang sama dan hidup di periode waktu yang sama, bukan berarti kakek B juga jadi “generasi pejuang Kemerdekaan”. Soalnya, kakek B nggak ngerasain berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia sampai titik darah penghabisan, apalagi ngerasain vibe Kemerdekaan Indonesia.

Jadi, Mannheim menekankan kalau tahun kelahiran aja nggak cukup buat kedua kakek berada pada generasi yang sama, karena mereka nggak berada dalam lokasi yang sama dan terlibat dalam peristiwa sejarah yang sama.

Beberapa sobat sosiolog lainnya, seperti Norman B. Ryder sampai Glen Elder, juga sepakat sama Mannheim. Dalam karya-karya mereka tentang “generasi”, Ryder dan Elder berpendapat kalau “generasi” yang sama nggak hanya fokus pada “lahir di waktu yang sama” maupun punya pengalaman historis yang sama, tapi juga terikat secara budaya, mulai dari pendidikan dan latar belakang keluarga.

Baca juga: Mengenal Tokoh Sosiologi dan Teorinya – Sosiologi Kelas 10

Hingga akhirnya, pada 1991, penulis asal Amerika, William Strauss dan Neil Howe, punya definisi sendiri tentang generasi. Strauss dan Howe hobi banget nulis buku yang membahas tentang generasional. Buktinya, lahirlah buku Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069 (1991), 13th Gen: Abort, Retry, Ignore, Fail? (1993), sampai  The Fourth Turning: An American Prophecy (1996).

Tiga buku Strauss dan Howe yang membahas tentang konsep generasi: Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069 (1991), 13th Gen: Abort, Retry, Ignore, Fail? (1993), dan The Fourth Turning: An American Prophecy (1996). (Goodreads, edited by Zenius)

Dari berbagai bukunya itu, duo sohib ini membahas tentang sejarah generasi Amerika dari tahun 1584 sampai buku mereka dirilis. Mereka menyebut, ada empat jenis generasi yang ‘lahir’ secara bersiklus.

Strauss dan Howe mengklasifikasikan empat generasi ini berdasarkan musim-musim sejarah yang terjadi dalam sejarah Amerika. Mereka melihat, di Amerika Serikat, setidaknya setiap 80-90 tahun terjadi krisis nasional. Dan di antara krisis-krisis itu, ada periode-periode titik balik perubahan budaya.

“Bukannya kata Mannheim dan Ryder tadi, generasi nggak ditentukan berdasarkan periode waktu?”

Yap, Strauss dan Howe emang punya pandangan yang berbeda sama Mannheim dan Ryder. Menurut Strauss dan Howe, setiap generasi itu bisa dikatakan sebagai “satu generasi” kalau memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Punya rentang usia yang sama;
  2. Punya pengalaman sosial yang sama; dan
  3. Punya keyakinan atau pola pikir yang sama.

So, mereka yang satu generasi terdiri atas orang-orang yang lahir dalam rentang tahun kelahiran yang sama dan mengalami peristiwa sosial yang sama selama masa remaja sampai dewasa. Pengalaman yang sama itulah yang membuat mereka punya nilai-nilai, sikap, dan perilaku yang cenderung sama.

Baca juga: Mengapa Pengetahuan Sosiologi Perlu Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-hari, ya?

Dalam buku Generations, Strauss dan Howe bilang kalau perubahan generasi layaknya siklus sejarah yang terdiri atas empat periode yang berulang. Perbedaan generasi berdasarkan siklus sejarah ini antara lain:

  • The High: Habis ngelewatin krisis parah alias masa ‘senasib-sepenanggungan’, masyarakat jadi solid banget. Jadi, nggak ada orang yang kepikiran buat individualis. Aturan dan lembaga publik juga lagi kuat-kuatnya. Contoh periode ini adalah ketika Pasca-Perang Dunia II di Amerika Serikat (tahun 1946-1964).
  • The Awakening: Masyarakat mulai ngerasa jenuh sama aturan yang mulai kaku. Mereka pengin punya kebebasan berekspresi dan mencari jati diri. Jadinya, mereka mulai mengkritik aturan dan lembaga sosial yang ada. Hal ini menciptakan konflik karena masyarakat udah punya banyak tuntutan kepada pemerintah. Contoh periode ini adalah era munculnya gerakan hak-hak sipil (pertengahan 1960-an sampai awal 1980-an).
  • The Unravelling: Ini adalah periode yang paling chaos, ketika masyarakat udah nggak punya kepercayaan lagi kepada Pemerintah. Power Pemerintah pun semakin melemah, dan setiap individu di masyarakat bakal ngelakuin apa aja buat mencapai tujuannya masing-masing. Contoh periode ini adalah era 1980-an sampai pertengahan 2000-an, seperti era 1998 di Indonesia, ketika masyarakat Indonesia mulai berani speak up tentang kondisi politik yang berdampak pada kesejahteraan rakyat Indonesia. Buat lo yang mau kepo lebih dalam tentang efek dari apa yang terjadi pada 1998, lo bisa klik artikel ini >>> Penyebab dan Dampak Krisis Moneter 1998 – Materi Sejarah Kelas 12
  • The Crisis: Kalau istilah netizen sekarang sih…we are doomed. Sehancur itu di era ini karena kondisi perang, runtuhnya perekonomian, atau runtuhnya rezim. Kondisi ini bikin masyarakat bersatu padu kembali buat melahirkan tatanan baru dan memulai siklus baru, alias The High berikutnya. Contoh era ini terjadi pada masa Great Depression, Perang Dunia II (1929-1945), Krisis Keuangan Global (2008), atau era Covid-19 (2020-2022).

Nah, dari empat siklus sejarah di atas, Strauss dan Howe meyakini kalau keempat siklus itu butuh waktu sekitar 80-90 tahun untuk terjadi secara berulang sepenuhnya. Dan selama 80-90 tahun itu, ada empat arketipe (pola) generasi yang berulang secara berurutan, yang masing-masing punya nilai-nilai, sikap, dan perilaku yang sama pada setiap generasinya.

“Terus, empat generasi yang dimaksud itu apa aja, kak?”

Kalau dalam buku Generations, empat arketipe ini antara lain Idealist, Reactive, Civic, dan Adaptive. Di buku selanjutnya, The Fourth Turning, keempat nama itu mereka ubah secara berurutan menjadi Prophet, Nomad, Hero, dan Artist.

Biar nggak bingung, gue jadiin satu dan gue jelasin satu persatu ya..

  • Prophet/Idealist. Generasi ini lahir menjelang akhir masa perang atau krisis, sehingga kondisi sosial saat itu menuju aman dan tentram. Masa kebangkitan otw terjadi. Jadinya, masa tumbuh-kembang mereka diwarnai oleh gerakan pembuat perubahan. Ketika generasi Prophet dewasa, banyak dari mereka yang punya jiwa revolusioner. Saat mereka udah memasuki usia senja, mereka cenderung jadi orang yang berprinsip, bermoral, ‘yang wajar-wajar aja jadi orang’, dan nggak suka cara yang instan dalam mencapai tujuan.
  • Nomad/Reactive. Beda sama generasi Prophet yang lahir dalam keadaan mindful, generasi Nomad justru tumbuh di tengah situasi yang chaos, yang bikin mereka nggak ada yang melindungi. Alhasil, mode survival selama tumbuh dewasa bikin mereka jadi generasi yang berani mengambil risiko dan tahan banting. Sayangnya, karena hidup mereka ibarat ‘ya udah lah ya’ sejak lahir, generasi Nomad cenderung menua sebagai sosok yang simpel dan praktis.
  • Hero/Civic. Generasi ini lahir setelah para orang tua mereka mengambil ‘hikmah’ dari kekacauan sosial yang selesai terjadi, sehingga mereka lebih di-protektif-in sama orang tua. Hasilnya, mereka tumbuh sebagai generasi yang optimis, ambis, produktif, PD maksimal, dan berprestasi. Saat udah dewasa, mereka cenderung berperan dan berkontribusi untuk masyarakat.
  • Artist/Adaptive. Generasi Artist lahir saat masa krisis kembali terjadi. Bahaya yang mengancam bikin orang tua mereka semakin protektif untuk melindungi mereka. Mereka pun tumbuh menjadi orang yang ngikut aja sama arahan orang tua, sehingga cenderung nggak mau mengambil risiko dalam menjalani hidup, alias ‘cari aman’. Alhasil, saat mereka udah dihadapkan sama kehidupan dewasa, mereka cenderung jadi sosok yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

Kalau tadi Strauss dan Howe membaginya berdasarkan periode sejarah, mereka juga membagi empat generasi berdasarkan rentang usia, yaitu:

  • Generasi Tua (66-87 tahun): Mereka punya sifat mengayomi, berperan sebagai pembimbing, dan mewariskan nilai-nilai ke generasi di bawah mereka.
  • Paruh Baya (44-65 tahun): Generasi ini berperan sebagai pemimpin, pendidik, pengasuh, dan menerapkan nilai-nilai hidup ke diri mereka dan mengajarkan ke anak-anak mereka.
  • Dewasa Muda (22-43 tahun): Fokus hidup mereka hanyalah kerja-kerja-kerja-tipes! (untuk tipes kondisional sih..), membangun rumah tangga, dan uji coba asam-garam kehidupan.
  • Generasi Muda (0-21 tahun): Mereka fokus bertumbuh, belajar, mencari perlindungan, handled with care, menghindari bahaya, dan mulai mempelajari nilai-nilai kehidupan.

Nah, dari pembagian empat generasi berdasarkan periode sejarah dan usia, Strauss dan Howe kemudian memadukannya sebagai paket komplet generasi sebagai berikut:

  • Prophet/Idealist = Generasi Tua (66-87 tahun)
  • Nomad/Reactive = Generasi Paruh Baya (44-65 tahun)
  • Hero/Civic = Generasi Dewasa Muda (22-43 tahun)
  • Artist/Adaptive = Generasi Muda (0-21 tahun)

Kalau Sobat Zenius lihat, setiap generasi punya rentang waktu 22 tahun. Seperti yang gue jelasin sebelumnya, Strauss dan Howe ngelihat bahwa setiap 80-90 tahun sekali, terjadi krisis nasional. Selama itu, ada transisi-transisi budaya selama empat periode waktu. So, setiap generasi punya 22 tahun rentang usia yang berbeda. 

Baca juga: Fenomena Menfess: Curhat Anonim dan Generasi yang Butuh Validasi

Bagaimana Teori Perbedaan Generasi Strauss dan Howe Bisa Nyambung ke Baby Boomer, Gen X, Gen Milenial, Gen Z, sampai Gen Alpha?

Strauss dan Howe nggak expect kalau teori perbedaan generasi mereka bakal se-booming itu. Tapi, disclaimer dulu ya, Sobat Zenius:

Sejauh ini, teori perbedaan generasi karya Strauss dan Howe belum punya bukti empiris yang mendukung. Dalam artikel jurnal karya Costanza dkk berjudul Are generations a useful concept? (2023), nggak ada teori yang jelas tentang kapan suatu generasi dimulai dan berakhir, serta berlanjut ke generasi selanjutnya. Nggak ada penelitian yang jelas juga tentang alasan pemilihan batas periode masing-masing generasi. 

However, masih banyak peneliti lain yang menjadikan teori perbedaan generasi ala Strauss dan Howe sebagai pedoman mereka dalam menuliskan karya-karya seputar generasi. Bahkan, tulisan Strauss dan Howe memunculkan penamaan baru buat masing-masing generasi.

Inilah awal mula dari kelahiran istilah Baby Boomer, Gen X, Gen Y alias Gen Milenial, sampai Gen Z dan Gen Alpha. And then, the rest is history…

Oke, gue kenalin satu-satu ya sama generasi-generasi di atas berdasarkan urutan tahun lahir. Gue juga akan jelasin generation gap atau perbedaan nilai, keyakinan, cara pandang, dan perilaku masing-masing generasi, dari kecil sampai dewasa.

Here we go…

Baby Boomer (1946-1964)

Kalau dari namanya sih tampaknya cukup imut ya, ada ‘baby’-nya. Tapi, kok, mereka justru generasi tua?

Menurut Mark McCrindle dalam bukunya berjudul The ABC of XYZ: Understanding The Global Generations (2014), istilah ini muncul saat adanya ‘ledakan’ kelahiran bayi (baby boom) secara besar-besaran pasca Perang Dunia II, yaitu antara tahun 1946-1964, ketika puncak kesuburan terjadi pada tahun 1961. Makanya, generasi yang lahir di era ini disebut sebagai baby boomer.

Jadi, saat itu, tingkat kesuburan emang lagi tinggi-tingginya. Setidaknya, 1 wanita melahirkan 3-4 bayi selama periode itu. Bahkan, di Australia, jumlah populasi di sana dari 7 juta jadi 12 juta jiwa! Sebahagia itu emang sehabis perang.

Populasi yang langsung naik drastis bikin pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur juga meningkat tajam. Bisnis perumahan jadi laris manis, teknologi juga makin maju. Generasi baby boomer juga punya kesadaran kolektif buat speak up apabila ada keputusan politik yang merugikan masyarakat, muncul gerakan feminisme, dan mulai menggaungkan kesetaraan. Intinya, generasi baby boomer adalah social justice warrior (SJW) pada masanya.

Generasi baby boomer yang memperjuangkan aksi perubahan iklim. Lebih dari 30.000 orang berkumpul dan berpawai di Melbourne pada 21 September 2014. (Doc. John Englart/CC BY-SA 2.0)

Karena generasi ini dianggap hidup damai dan financially stable, mereka dianggap sebagai ‘generasi old money’, bukan sandwich generation, karena mereka dianggap membantu perekonomian dan punya warisan yang memadai yang bisa diberikan kepada anak-cucu mereka.

Mereka sering dipandang sebagai pribadi yang ambisius, optimis dan fokus pada pencapaian personal maupun profesional. Banyak perubahan ekonomi, sosial dan budaya yang terjadi didorong oleh aksi mereka sebagai social justice warrior (SJW) pada masanya.

Karena banyaknya populasi yang lahir di periode ini, baby boomer terkenal sebagai generasi ‘generasi nikah muda’ dan ‘generasi punya anak di usia muda’. Jadinya, banyak yang cuma tamatan SMA, meskipun dari lubuk hati yang terdalam, mereka juga pengin lanjut kuliah.

Baby boomer juga tumbuh dengan saling bersaing buat dapat pekerjaan dan naik jabatan di tengah lowongan pekerjaan yang terbatas. Dikombinasikan dengan sifat mereka yang ambis dan workaholic, mereka punya mindset:

  • Kerja-kerja-tipes!
  • Kerjalah hari ini, esok, dan seterusnya ~
  • Apa itu work-life balance? Sewajarnya aja jadi manusia lah, kak, jadi tim 8-5.”
  • Apa itu kerja dari rumah? Yang kantor-kantor aja lah, kak, jelas ada bangunannya. Kerja pakai seragam; bukan pakai atasan kemeja, bawahnya pakai celana kolor.
  • “Siap, bos!”

Baca juga: Ok Boomer, Snowflake, dan Potret Perselisihan Antar Generasi

Generasi X (1965-1980)

Dari Baby Boomer, lahirlah generasi X, atau biasa disebut Gen X.

“Btw, kenapa nama generasinya tiba-tiba pakai nama abjad, ya?”

Istilah Gen X pertama kali digunakan pada tahun 1953 oleh fotografer terkenal asal Hungaria, Robert Capa. Waktu itu, Capa lagi bikin proyek kumpulan foto yang menampilkan sekelompok anak muda yang tumbuh dewasa setelah Perang Dunia II.

Salah satu potret karya Robert Capa tentang menyambut pasukan Amerika di Monreale, 23 Juli 1943. (Dok. International Center of Photography/Magnum – Collection of the Hungarian National Museum, CC BY-SA 2.0)

Nggak sendirian, Capa bikin esai foto tentang anak muda Pasca-Perang Dunia II itu bersama para fotografer lainnya yang tergabung dalam salah satu asosiasi fotografer terbesar di dunia, Magnum Photos. Proyek foto-foto itu kemudian dipublikasikan di berbagai media cetak di seluruh dunia, termasuk majalah Du di Swiss pada Januari 1954.

Dalam pengantar majalah Du, tertulis kalau alasan proyek foto tersebut dinamai Generation X karena sedikit sekali yang dunia ketahui tentang para anak muda yang dipotret–mereka yang lahir sekitar tahun 1925. Terlalu sedikit media yang menulis tentang mereka, dan terlalu sedikit perhatian dunia yang diberikan kepada mereka. Padahal, mereka adalah generasi yang udah banyak menyaksikan asam-garam masa Perang Dunia II, dan akan menjadi calon pemimpin dunia era pascaperang nantinya.

Klik artikel ini nih, buat tahu asam-garam Perang Dunia II yang gue maksud.

Karena mereka merupakan generasi yang penting untuk masa depan, tapi justru sedikit yang mengenal dan memperhatikan, maka mereka disebut sebagai Generasi X–generasi yang tidak dikenal.

Setelah proyek foto Capa dan para fotografer Magnum Photos ini viral, penggunaan nama Generasi X juga ikutan viral. Seiring berjalannya waktu, istilah ini makin banyak digunakan oleh beberapa kalangan, kayak musisi Billy Idol yang menamai punk-rock band-nya beserta albumnya dengan Generation X.

Puncaknya, istilah Gen X adalah ketika novelis dan seniman Canada, Douglas Coupland, menulis novel berjudul Generation X: Tales for an Accelerated Culture (1991). Novel yang juga diselingin sama gambar kartun ini nyeritain tentang tiga warga California usia 20-an yang crazy rich, tapi nggak ngerasa puas sama hidupnya.

Ketiga orang ini ada yang tumbuh dari orang tua yang super sibuk sama kerjaan, ada juga yang orang tuanya single parent. Jadinya, mereka tumbuh sebagai anak yang kesepian di rumah dan terbiasa mandiri menghadapi kerasnya hidup. Teman sejati mereka cuma komputer–yang saat itu nge-hits juga pada masanya–dan TV. Dan…boom! Novel ini jadi viral banget, dan bikin istilah Generasi X makin hits.

Dari novel Coupland, muncullah berbagai pandangan tentang Gen X. Berdasarkan artikel jurnal yang ditulis Megan S. Cantrell berjudul Generations at a Glance (2021), Gen X jadi generasi yang lebih berpendidikan dibandingkan orang tuanya (karena orang tuanya fokus untuk menyekolahkan anak-anaknya, meskipun harus kerja-kerja-tipes) dan mulai berpikir kalau kuliah adalah jalan menuju kesuksesan.

Melihat orang tua mereka yang justru lebih banyak ‘dimiliki’ sama kerjaan daripada anak sendiri, Gen X punya pandangan yang berbeda tentang pekerjaan. Di sinilah muncul mindset ‘work-life balance’, karena mereka tahu betapa nggak enaknya hidup hanya untuk kerjaan bagi yang menjalani maupun anggota keluarga yang ditinggalkan. Mereka juga lebih fleksibel sama dinamika pekerjaan.

Kira-kira, mindset Gen X kayak gini nih…

  • Kerja secukupnya, keluarga tetap segalanya.
  • Nempelin stiker Happy Family di mobil adalah koentji.
  • Nggak apa-apa kerjaan belum kelar sekarang, masih ada hari esok.
  • Work hard, play hard.
  • “Tapi, bos, menurut saya begini…”

Nyangka nggak, lo, kalau mindset work-life balance udah ada sejak Gen X?

Generasi Y / Gen Milenial (1980-1994)

Sekarang kenalan sama Gen Y atau Milenial. Alasan disebut sebagai Gen Y karena menjadi generasi selanjutnya dari Gen X, alias setelah huruf X adalah huruf Y. Tapi, Gen Y lebih dikenal dengan sebutan Gen Milenial, karena mereka tumbuh di era pergantian milenium, transisi dari tahun 1000-an menjadi tahun 2000.

Pergantian milenium bikin Gen Milenial jadi saksi hidup dari berbagai peristiwa di dunia. Contoh yang paling nyata adalah bahwa mereka jadi ‘pelaku’ langsung dari kehidupan sebelum era digital (seperti pakai ponsel layar kuning dan ijo, cuma ngandalin SMS yang bayarnya per kata) dan setelah Internet datang. Perubahan arah teknologi yang sangat pesat kala itu bikin pola komunikasi Milenial jadi berubah seutuhnya.

Transisi kehidupan Gen Milenial. (Dok. BalaramanL/Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International, nina.bruja/Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic)

Nggak hanya merasakan asam-garam life after Internet, Gen Milenial juga menghadapi peristiwa besar lainnya di dunia, seperti peristiwa politik di negara atau dunia, bahkan auto naiknya harga tanah dan rumah. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi yang lambat bikin gaji mereka cenderung stuck. Hantaman realita ini bikin Milenial punya pandangan hidup yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya, baik tentang kehidupan pribadi maupun pekerjaan.

Misalnya, dari segi pekerjaan, gaji yang cenderung susah naik bikin Gen Milenial menganut paham work-life balance yang dicetuskan oleh Gen X. Bedanya, kalau Gen X punya semboyan “work hard, play hard”, Gen Milenial nambahin satu kalimat semboyannya: work hard, play hard, do what you love. Milenial memastikan kalau kerjaannya bikin dia happy dan bisa explore apapun yang bisa mereka lakukan dan dapatkan. Kalau kerjaannya nggak bikin mereka puas, ya mereka bakal perlahan mundur.

Gen Milenial juga jadi generasi pertama yang fleksibel sama kerjaan. Mereka lebih berani speak up ke forum, berani ‘nagih’ promosi ke atasan, punya ekspektasi berkembang di tempat kerja dan nggak cuma datang-kerja-pulang, bisa kerja kelompok maupun individu, dan nggak kaku banget sama jam kerja dan aturan kantor. 

Dari segi personal, Gen Milenial cenderung dibesarkan oleh orang tua tunggal yang banting-tulang demi keluarga. Kehidupan orang tua mereka yang keras bikin Gen Milenial berpikir secara matang tentang pernikahan (nggak modal cinta aja), dan punya tekad kuat untuk punya karier yang bagus demi masa depan yang lebih baik.

Kalau dirangkum, mindset Gen Milenial seperti ini…

  • Do what you love, love what you do.
  • Kerja remote? Gas!!!
  • Kerja pakai pakaian apapun, yang penting nyaman? Gas!!!
  • Kerja sendiri? Gas!
  • Kerja tim? Juga gas!!!
  • Hobiku adalah menertawakan diri sendiri, karena Kiamat 2012 sudah kulalui~
  • “Kapan gaji saya naik, bos?”
  • Nggak bisa berkembang di tempat kerja? Ya udah, capcus aja ~

Baca juga: Tips Mengatur Waktu Anak Sekolah untuk Orang Tua Millenial

Generasi Z / Gen Z

Ini nih, generasi yang paling banyak dibahas di media sosial. Masih dalam buku The ABC of XYZ: Understanding The Global Generations, McCrindle menyebut Gen Z sebagai generasi kelahiran 1995-2009. Tapi, McCrindle tetap menegaskan kalau sebenarnya nggak ada awal yang pasti tentang kapan periode kelahiran Gen Z dimulai.

Yang jelas, Gen Z–termasuk mungkin lo yang lagi baca artikel ini saat ini–adalah generasi yang dari kecil udah hidup berdampingan dengan dunia digital. Gen Z kayaknya nggak relate sama kehidupan yang harus nobar Piala Dunia di TV bareng tetangga di pos ronda, atau harus beli koran dulu buat bisa baca berita. Buat kenal orang baru, nggak harus kenalan sama temannya teman. Cukup ngajak kenalan strangers aja di media sosial sambil kirimin Direct Message.

Dari segi pendidikan, Gen Z sebenarnya udah dapat privilege banget. Gen Z jadi generasi yang paling dipenuhi hak pendidikannya sama orang tua mereka. Orang tua yang melahirkan Gen Z adalah orang tua yang lebih matang secara usia, finansial, dan pemikiran. Jadi, hidup Gen Z diisi oleh ikut les atau ekskul buat mengembangkan diri mereka.

Gen Z tumbuh dengan mindset fokus untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya dan mengembangkan kemampuan lainnya yang bisa diasah. Fenomena ini bikin mereka ‘dewasa lebih cepat’.

Sebenarnya, perjalanan hidup Gen Z itu hampir sama kayak Baby Boomer: jadi ‘penyintas’ berbagai peristiwa dunia, mulai dari resesi ekonomi tahun 2007-2009 sampai yang paling mengubah dunia adalah Covid-19. Tapi, tetap aja Gen Z adalah Gen Z. Kurang lebih tiga tahun hidup dalam isolasi justru bikin Gen Z makin addicted sama gadget. Mata dan jari nggak pernah lepas dari layar ponsel.

Potret para perempuan Generasi Z yang sibuk memotret dan mengirim foto saat berada di Lille Palace of Fine Arts museum. (Dok. Nben54/Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0)

Bedanya sama Baby Boomer selama menghadapi gonjang-ganjing dunia adalah…Gen Z bisa menyuarakan apa yang mereka rasakan dan alami di media sosial. Meskipun fisik satu sama lain terpisah jauh, para Gen Z tetap terkoneksi satu sama lain lewat dunia maya–ya WhatsApp, ya TikTok, ya Instagram, dan media sosial lainnya.

Jadi, Gen Z adalah kombinasi ciamik dari tiga generasi: Pasang-surut hidupnya kayak Baby Boomer, mentalnya setangguh Gen X, dan hatinya seempatik Gen Milenial. Berkat teknologi, Gen Z bisa dengan mudah relate dan ngerasain struggle orang lain dari berbagai belahan dunia hanya lewat layar HP. Nggak ada yang namanya memendam perasaan sendirian, karena Gen Z bisa bebas nulis dan ngomong apapun di media sosial, kepada siapapun, dan kapanpun. Alhasil, mereka jadi lebih aware terhadap kesehatan mental dan lebih berani menyuarakannya. Apapun yang mereka pikir adalah hak mereka, penting untuk disuarakan.

Karakter Gen Z seperti ini kebawa di dunia kerja. Vibes yang dibawa Gen Z jelas berbeda banget sama generasi-generasi sebelumnya. Buat mereka, value pekerjaan, kepuasan dalam bekerja, dan misi tempat kerja lebih penting daripada sekadar cuan.

Karena Gen Z lebih komunikatif dan terbuka buat speak up, mereka dikenal sebagai generasi yang sangat kritis di tempat kerja. Gen Z nggak segan buat menegakkan kebenaran dan keadilan jika ada yang bertentangan dengan prinsip mereka. Selain itu, karena melek teknologi dan udah biasa dibanjiri informasi, Gen Z bisa multitasking dan adaptif dalam bekerja–kerja tim bisa, kerja sendiri bisa banget.

Karena Gen Z adalah generasi yang paling fleksibel tentang kerjaan, mereka nggak segan buat segera resign jika lingkungan kerjanya dianggap udah toxic. Gen Z menganggap bahwa ibarat dunia-akhirat harus seimbang, begitu pula dengan kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Kalau berangkat kerja, nggak usah pagi-pagi amat. Tepat waktu aja udah cukup. Kalau pulang, ya harus tepat waktu, karena kasur di rumah sudah menunggu. Gen Z nggak akan membiarkan urusan kerja > kesehatan fisik dan mental mereka.

Meskipun tadi gue bilang bahwa value lebih penting daripada cuan, Gen Z nggak se-nggak-butuh itu kok terhadap cuan. Justru, Gen Z adalah generasi yang paling menghargai duit banget in this economy yang serba menguat ini (USD-nya yang menguat, bukan Rupiah). Gaji yang terkadang ala kadarnya, biaya hidup sampai biaya bangun rumah yang semakin menukik, bikin mereka strict buat ngatur keuangannya. “Belum punya 1M, rumah, dan mobil? Nggak masalah. Yang penting, nabung dulu lah,” ucap Gen Z dalam hati (setiap hari).

Prinsip hidup Gen Z:

  • Work-life balance.
  • Pulang tenggo.
  • Mental health matters.
  • Remote working adalah prioritas.
  • Se-dar-der-dor apapun kehidupan, akan kuhadapi dengan kopi dan matcha.
  • Rumah ❎ Mobil ❎ Liburan ✅ Konser ✅
  • Kalau kata Hindia, berdansalah, karier ini tak ada artinya ~

Tapi, apakah semua Gen Z punya karakter yang sama?

No, no, yaaa. Nggak semua Gen Z punya karakter yang sama. Begitu juga dengan generasi lainnya, kayak Baby Boomer, Gen X, dan Gen Milenial. Mereka adalah individu yang berbeda, yang lahir dan tumbuh dari lingkungan tempat tinggal, keluarga (termasuk kondisi finansial dan pola asuh), serta budaya setempat yang berbeda. Berbagai perbedaan itu menciptakan pemikiran yang berbeda pula pada masing-masing individu generasi.

Pembahasan terkait itu akan gue bahas di bagian terakhir tulisan ini ya, Sobat Zenius ~

Gen Alpha

Generasi terakhir yang akan gue bahas adalah Gen Alpha. Menurut McCrindle, Gen Alpha adalah generasi yang lahir antara tahun 2010-2024. 

“Tapi, penamaannya kok dari Gen Z tiba-tiba ke Alpha?”

Yap. Setelah daftar nama alfabetis habis, para ilmuwan sepakat untuk beralih menggunakan alfabet Yunani untuk penamaan. Alfabet Yunani dimulai dari Alpha, Beta, Gamma, Delta, dan seterusnya. Jadi, mulailah penyebutan nama generasi dengan menggunakan Alpha.

Selain karena alasan itu, penggunaan nama Gen Alpha juga dianggap sebagai awal dari sesuatu yang baru. Soalnya, Gen Alpha adalah satu-satunya generasi yang lahir secara full time di abad ke-21!

Bayangin aja. Saat mereka lahir di dunia, lahirlah juga Instagram tahun 2010. Varian gadget semakin berkembang dan mutakhir. Kalau Gen Z TUMBUH bersama teknologi yang udah maju, Gen Alpha udah ditemenin teknologi maju sejak LAHIR.

Ilustrasi Gen Alpha yang sedang belajar menggunakan wifi di sekolah. (Dok. Lucélia Ribeiro/Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic)

‘Dirayakan’ teknologi sejak lahir nggak hanya secara harfiah lahir bareng teknologi-teknologi baru. Saat Gen Alpha tumbuh, orang tua mereka–yaitu Gen Milenial–akan mendokumentasikan pertumbuhan para Gen Alpha di media sosial. Sejak lahir, mereka udah dikenal sama aunty dan uncle online dari mana pun.

Gen Alpha juga tumbuh dewasa dengan punya teman baru. Bukan manusia, bukan makhluk gaib, bukan boneka, bukan robot.

Yap, AI. Jangan kaget ya, kalau mereka cenderung lebih milih curhat sama AI dan lebih percaya buat tanya ke AI daripada tanya ke orang lain.

Selain itu, dibandingkan Gen Z yang menghadapi pandemi Covid-19 di usia yang lebih dewasa, Gen Alpha justru ketemu sama Covid-19 sejak mereka masih kecil. Mereka menjalani masa sekolah via online sampai nyari hiburan lewat games via online.

Karena mereka tumbuh dan berkembang di era Covid-19, Gen Alpha juga disebut sebagai “Generasi Covid”. Kehidupan mereka jauh lebih terdampak Covid-19 dibandingkan generasi lainnya, karena mereka merupakan generasi yang paling muda dalam menghadapi pandemi yang menghantam dunia itu.

“Terus, gimana karakter Gen Alpha?”

Karena sampai saat ini Gen Alpha masih tumbuh dan berkembang, jadi belum banyak penelitian yang membahas tentang karakter spesifik Gen Alpha, apalagi di dunia kerja. Tapi, lo bisa baca lebih dalam tentang karakteristik anak Gen Alpha lewat artikel ini >>> Memahami Karakteristik Anak Generasi Alpha

Terus, Apakah Stereotip Generasi Bisa Dipercaya?

Apakah baby boomer emang selalu serius banget masalah kerjaan?

Apakah Gen X dan Gen Milenial selalu nggak enakan jadi orang?

Apakah Gen Z selalu berpedoman “mental health matters”?

Dan, apakah Gen Alpha selalu 24/7 menghadap gadget?

Dalam artikel jurnal mereka yang berjudul Generations and Generational Differences: Debunking Myths in Organizational Science and Practice and Paving New Paths Forward (2021), Rudolph dkk membahas tentang fenomena popularitas konsep generation gap, terutama di tempat kerja. Mereka menegaskan, konsep generation gap itu hampir nggak ada bukti ilmiah yang valid, melainkan berasal dari stereotip sosial belaka.

Meskipun begitu, Rudolph dkk nggak memungkiri kalau konsep ini tetap langgeng di masyarakat karena beberapa alasan, yaitu bahwa konsep generasi hanyalah ‘cara instan’ yang digunakan masyarakat buat mengelompokkan golongan orang berdasarkan perbedaan usia, sehingga muncullah stereotip generasi itu.

Berdasarkan penelitiannya, Rudolph dkk nyebutin beberapa alasan konsep generation gap nggak ada bukti empiris yang akurat, yang bisa diandalkan. Gue jelasin lewat poin-poin berikut:

1. Kombinasi Age-Period-Cohort.

Perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu usia (Age), kondisi zaman saat ini (Period) dan tahun kelahirannya (Cohort). Secara matematis, melalui hasil penelitian Rudolph dkk, ketiga hal ini saling terikat dan tak terpisahkan. Jadi, nggak ada bukti bahwa perilaku seseorang murni disebabkan oleh tahun kelahirannya aja.

Contoh dari gue: Gen Z perintis berusia 25 tahun, sandwich generation, dan nggak punya tabungan buat diri sendiri nggak akan gampang resign dari kerjaan dibandingkan Gen Z pewaris berusia 25 tahun yang tetap bisa nerusin bisnis ternak lele bapaknya tanpa takut resign dari kerjaan lama. Jadi, nggak ada bukti empiris kalau semua Gen Z punya jargon “mental health matters”, bergantung pada kondisi kehidupannya saat itu, termasuk terkait kondisi ekonomi.

2. Nggak ada batasan tahun lahir yang mutlak.

Menurut temuan Rudolph dkk, berbagai penelitian yang ditemukan tentang rentang tahun lahir yang menentukan generasi tertentu saling berbeda satu sama lain. Ada yang punya perbedaan tiga tahun, ada juga yang periode tahun lahirnya berbeda sampai sembilan tahun. Rentang tahun lahir generasi yang nggak konsisten ini muncul sebagai hasil dari bentukan media populer sendiri, bukan berdasarkan batas biologis atau psikologis yang udah diukur secara ilmiah.

3. Stereotip ini berakar dari budaya Amerika Serikat yang digeneralisasi.

Kalau lo merhatiin cerita gue dari awal, teori perbedaan generasi merupakan karya dari Strauss dan Howe yang merupakan penulis asal Amerika Serikat. Contoh-contoh yang mereka ambil dari kasus-kasus yang ada di Amerika Serikat. Apalagi, label baby boomer, Milenial, sampai Gen Z berakar dari latar belakang sejarah dan budaya Amerika Serikat.

Konsep ini nggak bisa diberlakukan secara universal ke negara-negara lain. Soalnya, setiap negara punya latar belakang sejarah, budaya, dan kondisi sosial yang berbeda.

4. Setiap orang bisa berubah…

Batasan rentang usia masing-masing generasi beserta stereotip karakter yang melekat seolah menggambarkan kalau manusia nggak bisa berubah dan mutlak seperti itu sampai akhir hayat. Padahal, ada kata bijak berikut: People change. Kepribadian dan nilai-nilai yang dianut manusia terus berkembang dan bisa berubah secara fleksibel sepanjang hidup mereka, berdasarkan pelajaran dari berbagai pengalaman hidup yang membentuk kepribadian dan pola pikir mereka. 

5. Sejak awal memang nggak dirancang sebagai teori ilmiah terukur.

Dari awal, Strauss, Howe, maupun para sosiolog lainnya yang mencetuskan konsep generasi, memang nggak bermaksud menjadikan konsep ini sebagai teori ilmiah yang bisa dijadikan patokan untuk seterusnya. Justru, mereka menggunakan konsep ini buat ngegambarin perubahan budaya secara makro, bukan sebagai teori ilmiah kuantitatif yang dirancang buat mengukur atau memprediksi perilaku seseorang berdasarkan rentang tahun lahir mereka.

Finally, selesai sudah kupas-tuntas gue tentang Baby Boomer, Gen X, Gen Milenial, Gen Z, dan Gen Alpha. Gimana, udah paham kan, Sobat Zenius, tentang perbedaan kelima generasi itu?

Tapi, tetap ingat ya, kalau konsep generasi ini hanyalah hasil dari konsep yang dibentuk dari perspektif sosiologi aja, bukan berakar dari teori ilmiah. Nggak mesti satu generasi akan punya mindset dan perilaku yang sama, begitu juga yang berbeda generasi belum berarti berbeda pemahaman sama sekali.

Kira-kira, lo setuju nggak sama konsep generasi ini? Yuk, share POV lo di kolom komentar, dan sampai jumpa di artikel berikutnya!

Referensi:

Amanda van Eck Duymaer van Twist and Suzanne Newcombe. “Strauss-Howe Generational Theory.” In James Crossley and Alastair Lockhart (eds.) Critical Dictionary of Apocalyptic and Millenarian Movements. 15 January 2021. Retrieved from www.cdamm.org/articles/strauss-howe. (First published 12 June 2017 censamm.org/resources/profiles/strauss-howe-generational-theory.)

Britannica. (2026, 27 Agustus). Generation Alpha. Diakses pada 28 September 2026

Britannica. (2026, 19 Juli). Generation X: Tales for an Accelerated Culture. Diakses pada 21 September 2026

Cantrell, Megan S. (2021). Generations at a Glance. Agricultural Education and Communication, 2021 (6), 1-4.

Comte, Auguste. (1830). Cours de philosophie positive. Paris: Bachelier.

Costanza, David P., Rudolph, Cort W. & Zacher, Hannes . (2023). Are generations a useful concept?. Acta Psychologica, 241, 1-9.

Magnum Photos. (2026, 14 Februari). Generation X. Diakses pada 21 September 2026

McCrindle, Mark. (2014). The ABC of XYZ: Understanding The Global Generations (3rd Edition). New South Wales: McCrindle Research Pty Ltd.

National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (2020). Are Generational Categories Meaningful Distinctions for Workforce Management?. Washington, DC: The National Academies Press. https://doi.org/10.17226/25796.

Rudolph, Cort W., Rauvola, Rachel S., Costanza, David P. & Zacher, Hannes. (2021). Generations and Generational Differences: Debunking Myths in Organizational Science and Practice and Paving New Paths Forward. Journal of Business and Psychology, 36 (6), 945–967.

Strauss, William & Howe, Neil. (1991). Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069. New York: William Morrow and Company.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *