Perbedaan Will vs Be Going To dalam Bahasa Inggris – Gentongpos
Hai Sobat Zenius! Kali ini Miss Grace mau bahas suatu kebingungan yang sering bikin murid puyeng. Ini beneran lho, nggak cuma pemula aja yang bingung, yang sudah bisa bahasa Inggris pun kadang masih sering ragu dan salah ketika memilih cara mengatakan ‘akan’ dalam bahasa Inggris.
Sebenarnya, wajar banget sih kalau bingung. Apalagi, dalam bahasa Indonesia kita secara konsisten pakai kata ‘akan’ saja ketika mendeskripsikan sesuatu yang mau kita lakukan di masa yang akan datang, kan? Nah, dalam bahasa Inggris, ada beberapa variasi seperti “will” dan “be going to”, yang sama-sama bisa diartikan sebagai ‘akan’ ke bahasa Indonesia. Coba deh, Sobat Zenius lihat percakapan di bawah ini. Kira-kira, apakah Sobat Zenius merasakan ada perbedaan atau vibes pemakaian will dan be going to? Perhatikan kata atau kalimat yang tebal ya.
The Weekend Disaster
Mia: Hey, are you ready for our picnic tomorrow?
Jake: Almost! I’m going to make some sandwiches tonight, and I’m going to bring my new speaker.
Mia: Oh no! Look at the weather forecast. It’s going to rain tomorrow!
Jake: Seriously? Hmm… Don’t worry. We will have the picnic at my house instead!
Mia: Great idea! But we don’t have any drinks.
Jake: I will buy some drinks on my way home.
Mia: Thanks! Oh, and what about dessert?
Jake: I’m going to bake a chocolate cake. I’ve already bought all the ingredients!
Mia: Wow! Okay, I will bring some ice cream!
The next day, at Jake’s house…
Mia: Jake? Why is there water all over your kitchen floor?
Jake: Oh, no! The washing machine is leaking!
Mia: And why is your dog wearing a birthday hat?
Jake: Long story. He ate my mum’s birthday cake, so she put the hat on him as punishment.
Mia: Wait… Is that smoke coming from the oven?
Jake: WHAT?! My chocolate cake!
Mia: Don’t panic! I’ll get some water!
Jake: No, wait! Don’t use water on the cake! I mean, on the oven!
Mia: Your cake looks like a piece of charcoal.
Jake: Okay, new plan. We’ll order pizza!
Mia: Great! I’ll order it now. But, um… why is your dog eating my ice cream?
Jake: I’m going to give that dog a very long lecture.
Wuah … benar-benar hari yang wadaw wadidaw ya untuk Mia dan Jake. Semuanya benar-benar berjalan di luar perkiraan BMKG. Dari perubahan rencana piknik karena cuaca, mesin cuci yang bocor, kue gosong yang jadi sehitam arang, sampai es krim yang asyik dinikmati anjing. Yah seenggaknya mereka masih bisa makan pizza.
Sekarang, kita kembali ke pembahasan utama kita. Sobat Zenius merasakan nggak beda penggunaan will dan going to pada percakapan tersebut? Coba deh, perhatikan konteksnya. Kenapa ya Jake atau Mia pakai will atau going to pada kalimat mereka? Silakan simpan jawaban atau tebakannya, dan lihat apakah jawaban Sobat Zenius tepat atau tidak setelah ini. Sekarang, kita bahas perbedaan dan kapan penggunaan will dan be going to, serta contohnya ya!
Simple Future Tense: Functions 1
Yuk, pelajari materi SMP Kelas 9 ini lewat video dan latihan soal di Zenius!
Tabel Konten
Beda will dan be going to
Sobat Zenius pernah nggak bingung kapan harus bilang “I’ll buy it” dan kapan harus bilang “I’m going to buy it”?
Keduanya sama-sama bisa berarti “Aku akan membelinya”. Makanya, banyak pelajar bahasa Inggris menghafal rumus sederhana ini, bahwa will untuk keputusan spontan, sedangkan be going to untuk rencana yang sudah dibuat sebelumnya. Yap, aturan ini memang membantu, terutama buat pemula. Tapi, ternyata, perbedaannya lebih nggak se-simple itu. Coba kita
Penelitian dari Yeh (2021) melihat perbedaan semantik dan sintaksis antara will dan be going to menggunakan data dari British National Corpus (BNC).
💡
FYI, British National Corpus (BNC) adalah sebuah kumpulan teks bahasa Inggris yang digunakan untuk penelitian bahasa. Lalu, semantik itu soal makna, sedangkan sintaksis itu soal struktur kalimat ya~
Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan keduanya nggak cukup dijelaskan melalui aturan sederhana seperti spontaneous decision vs. prior plan aja.
Secara semantik, will cenderung berorientasi pada waktu terjadinya peristiwa di masa depan (event-time orientation atau temporal posteriority). Jadi, konstruksi ini menempatkan perhatian pada suatu kejadian yang akan berlangsung setelah waktu pembicara berbicara.
Sedangkan, be going to lebih berorientasi pada waktu sekarang melalui aspek prospektif (present-time orientation atau prospective aspect). Artinya, be going to dapat menggambarkan kejadian mendatang sebagai kelanjutan dari proses yang sedang berlangsung atau menuju suatu hasil.
Selain itu, pemilihan kedua konstruksi ini berkaitan dengan dinamika verba, lingkungan sintaksis, dan kategori teks. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan will dan be going to dipengaruhi oleh makna serta konteks penggunaannya, bukan hanya oleh satu aturan praktis tentang kapan suatu keputusan dibuat saja ya.
Jadi, kita harus benar-benar ngeliat konteksnya, apa makna atau nuansa yang sebenarnya mau disampaikan gitu.
Kalau kita cek penelitian lain, Seog et al. (2019) menemukan bahwa pembelajar bahasa Inggris tingkat lanjut asal Korea yang diteliti juga menggunakan be going to untuk menyampaikan dugaan tentang sesuatu yang akan terjadi (epistemic assumption) juga, nggak cuma buat menyatakan rencana atau niat aja. Misalnya, ketika seseorang berkata, “It’s going to rain,” ia sedang memperkirakan bahwa hujan akan turun. Dalam korpus tulisan pembelajar yang dianalisis, penggunaan be going to untuk menyampaikan dugaan semacam ini ditemukan jauh lebih banyak daripada penggunaannya untuk menyatakan niat lho. Oke, dari situ kita tahu ya, be going to itu nggak cuma buat niat, tapi juga bisa untuk perkiraan juga kok.
Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa penutur asli bahasa Inggris Amerika lebih sering menggunakan will daripada be going to, terutama dalam tulisan akademik. Artinya, meskipun kedua bentuk ini sama-sama digunakan untuk membicarakan masa depan, frekuensi penggunaannya dapat berbeda nih, tergantung sama konteks dan jenis teks.
Nah, setelah pembahasan tadi, kita bisa rangkum beberapa perbedaan will dan be going to lewat tabel berikut. Namun ingat ya, tabel ini sebenarnya panduan praktis untuk membantu pemahaman kita aja, bukan aturan mutlak!
Oke, sudah mulai terlihat ya bagaimana konteks will dan be going to biasa digunakan. Agar semakin jelas dan lebih mudah dipahami, yuk kita bahas satu per satu dengan contohnya.
Simple Future Tense: Functions 2
Yuk, pelajari materi SMP Kelas 9 ini lewat video dan latihan soal di Zenius!
Kapan menggunakan will?
Kita mulai dari will dulu ya. Kita bahas dulu strukturnya. Untungnya, struktur kalimat will cukup simpel, seperti ini.
| Bentuk kalimat | Rumus | Contoh |
|---|---|---|
| Positif (+) | Subject + will + Verb 1 | She will come tomorrow. |
| Negatif (−) | Subject + will not (won’t) + Verb 1 | She won’t come tomorrow. |
| Tanya (?) | Will + subject + Verb 1? | Will she come tomorrow? |
Perhatikan! Kata kerja setelah will selalu menggunakan bentuk dasar (Verb 1) kok. Jadi, kita mengatakan she will come, bukan she will comes, she will came, atau she will coming. Nggak perlu repot-repot ubah kata kerjanya.
Selain itu, will not bisa disingkat menjadi won’t. Keduanya memiliki arti yang sama, yaitu “tidak akan”. Sekarang, kita bahas beberapa konteks penggunaan will.
Prediksi pribadi
Kita bisa pakai will untuk menyampaikan prediksi, perkiraan, atau pendapat kita tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Biasanya prediksi ini lebih berdasarkan pikiran, tebakan, kepercayaan, atau intuisi pribadi kita.
- I think it will rain tomorrow. –> Ini lebih seperti tebakan. Kayaknya besok bakal hujan deh, gitu. Perasaan aja. Biasanya nggak lihat ramalan cuaca ataupun tanda-tanda langit gelap.
- I don’t think he will pass the exam. –> Nah, ini prediksi yang mungkin sebenarnya tidak dibarengi dengan bukti. Jadi, pembicara lebih ke arah nebak aja, nggak yakin-yakin banget, bukan karena mengacu pada data masa lalu atau situasi tertentu.
- Do you think they will win the match? –> Ini benar-benar sekedar nanya prediksi/pendapat seseorang gitu, bukan yang minta ramalan berdasarkan analisis yang gimana-gimana
Kita bisa menggunakan will untuk menyampaikan prediksi, perkiraan, atau pendapat tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Biasanya, prediksi ini diawali dengan ungkapan seperti I think (aku rasa), I believe (aku percaya), atau probably (mungkin).
Keputusan spontan
Selanjutnya, will juga sering digunakan ketika seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu tepat pada saat dia berbicara, bukan karena sudah benar-benar merencanakannya sebelumnya. Berikut contohnya.
- I’m hungry. I’ll make a sandwich. –> Nah, ini keputusan spontan karena ngerasa lapar.
- Actually, I won’t buy it. It’s too expensive. –> Ini konteksnya seseorang sedang di toko gitu ya, lagi liat barang, nggak ada rencana gimana-gimana, terus memutuskan secara spontan, eh mahal juga, aku nggak beli deh, gitu.
Tawaran atau kesediaan
Next, kita juga bisa menggunakan will untuk menawarkan bantuan atau menunjukkan kesediaan kita untuk melakukan sesuatu, seperti contoh berikut.
- I’ll help you with your homework. –> Di sini pembicara menawarkan diri untuk membantu seseorang dengan PR-nya. Jadi kayak, ya dia bersedia dan dia menawarkan bantuan.
- Don’t worry, I’ll teach you how to use that camera. –> Pembicara menunjukkan kesediaan untuk mengajarkan seseorang bagaimana cara menggunakan kamera tersebut.
Janji
Apakah Sobat Zenius tahu lagu ikonik ini?

- I will always love you. –> Udah langsung kebayang nada dan liriknya ya, “And aaaaaaaiiiiiiiieaaaai will always love youuuuuuuu….“. Lagu ini tuh ditulis oleh Dolly Parton, dan ya, makna itu menyampaikan sebuah janji atau komitmen bahwa dia akan selalu mencintai seseorang itu.
- I won’t be late again. –> Ini juga janji atau komitmen bahwa kedepannya nggak akan telat lagi gitu.
Baca juga: 🔗 Future Tense yang Akan Datang
Kapan menggunakan going to?
Selanjutnya, be going to. Ini strukturnya.
| Bentuk kalimat | Rumus | Contoh |
|---|---|---|
| Positif (+) | Subject + am/is/are + going to + Verb 1 | She is going to study tonight. |
| Negatif (−) | Subject + am/is/are + not + going to + Verb 1 | She isn’t going to study tonight. |
| Tanya (?) | Am/Is/Are + subject + going to + Verb 1? | Is she going to study tonight? |
Dari situ, terlihat bahwa kita harus berhati-hati ketika memilih to be, ada am/is/are yang perlu disesuaikan dengan subject. Sedangkan, untuk verb atau kata kerja itu peraturannya mirip dengan will, pakai saja bentuk dasar atau seringkali di sebut sebagai Verb 1. Sekarang, kita bahas contoh konteks penggunaan be going to.
Prediksi berdasarkan bukti
Pertama, prediksi yang didukung dengan bukti. Bukti ini bisa dalam berbagai bentuk misalnya situasi tertentu, data, hasil analisis, pola sebelumnya, dan lain-lain. Berikut contohnya prediksi berdasarkan bukti (evidence-based predictions).
- Look at those dark clouds! It’s going to rain. –> Nah, di sini kita sudah ngeliat ‘bukti’ yaitu langit dipenuhi awan gelap, alias mendung. Jadi lebih yakin gitu, kalau bakalan hujan.
- Oh no, I didn’t study last night. I’m not going to pass this test for sure. –> Ini juga prediksi, yang didasari dengan situasi sebelumnya. Berhubung si pembicara belum sempat belajar untuk ujian, dia ngerasa bakal nggak lolos.
- She’s going to win the race. She’s way ahead! –> Di sini sudah terlihat bahwa atlet yang sedang lomba ini udah jauh di depan, sehingga ya berdasarkan ‘bukti’ atau lebih tepatnya situasi tersebut, maka ada prediksi bahwa dia akan menang.
- The baby is going to cry. –> Nah, kalau seseorang ngomong gini, kemungkinan dia sudah mulai ngeliat raut wajah bayi yang cemberut dan bibirnya mulai bergetar, sehingga bisa memberikan prediksi bahwa bayinya akan nangis gitu.
- Watch out! That glass is going to fall off the table! –> Situasinya kemungkinan gelas tersebut sudah ada di pinggir meja dan sudah mau jatuh, sehingga pembicara bilang gelasnya bakal jatuh dengan cukup yakin.
- Our economy is going to crash. –> Mereka sudah melihat data atau grafik penelitian tentang ekonomi yang menunjukkan kecenderungan menurun sehingga mereka memprediksi kehancuran ekonomi.
Rencana dan niat
Selanjutnya, be going to juga dipakai untuk konteks ketika seseorang sudah memutuskan atau merencanakan sesuatu. Biasanya kita bisa tahu apakah sesuatu sudah direncanakan atau tidak dari situasi atau aksi orang tersebut. Berikut contohnya.
- I’m going to buy a new phone next month. –> Ketika seseorang bilang begini, kemungkinan dia sudah beneran nabung, cari tahu soal hp yang mau dia beli, dan memang sudah berencana beli HP baru bulan depan, bukan sekedar ingin melakukan saja.
- She’s going to visit her grandmother this weekend. –> Ini berarti dia sudah benar-benar merencanakan dan mengagendakan kunjungan ke rumah neneknya. Bahkan, mungkin dia sudah membeli tiket kereta untuk pergi ke perumahan neneknya.
- We’re going to watch a movie after dinner. –> Jadi, mereka sudah membuat rencana jadwal bahwa setelah makan malam, mereka akan nonton sebuah film.
- They’re going to move to Melbourne next year. –> Kemungkinan mereka sudah berencana dan mempersiapkan kepindahan mereka ke Melbourne, dari tiket pesawat, tempat tinggal, pekerjaan baru, dan lain sebagainya.
Contoh kalimat future tense will dan going to
Nah sekarang kita akan membahas cara mengatakan akan dalam bahasa Inggris sesuai dengan konteks yang tepat. Kita akan kuliti satu per satu kalimat dari percakapan Jake dan Mia untuk benar-benar memahami makna penggunaan dua future tense ini ya.
🕵️
Ingat! Kita memang sudah membahas bagaimana perbedaan konteks penggunaan will dan be going to. Namun, perlu diketahui bahwa ini adalah panduan saja, terutama untuk ujian bahasa Inggris tertulis. Pada real life situations, penggunaan will dan be going to benar-benar tergantung konteks dan nuansa yang ingin disampaikan oleh masing-masing individu.
Oke Sobat Zenius, sampai di sini dulu pembahasan kita kali ini. Ingin belajar bahasa Inggris dengan seru dan mudah dipahami? Yuk, langsung buat akun gratis di Zenius dan cek playlist di bawah ini!
Simple Future Tense
Jelajahi materi SMP Kelas 9 di Zenius lewat video belajar, latihan soal, dan pembahasan.
Baca juga artikel lainnya:
🔗 Perbedaan In, On, At, yang Sering Bikin Bingung Soal Preposisi Waktu Bahasa Inggris
Referensi:
Klecha, P., Jalbert, J., Munn, A., & Schmitt, C. (2008). Explaining why gonna precedes will in acquisition. Dalam Proceedings of the 32nd Annual Boston University Conference on Language Development (hlm. 224–233). Cascadilla Press.
Marhamah, F., Simanjuntak, E. B., Pasaribu, I. R. B., Luthfia, N. A., Hasibuan, Y. H., & Capah, Y. E. (2025). An error analysis of simple future tense usage in the writings of sixth-grade elementary school students. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 3(4), 4161–4167.
Seog, D. S.-Y., Lee, Y.-S., & Choi, I. (2019). Use of English futures, will vs. be going to: A corpus-based comparison study. Studies in Modern Grammar, 102, 205–223.
Yeh, T.-F. (2021). A corpus-based investigation of semantic and syntactic differences between the two major future tense constructions. Concentric: Studies in Linguistics, 47(1), 34–60.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
